Selasa, 23 Maret 2010

SAMAKAH ORANG YANG BERILMU DENGAN ORANG YANG TIDAK BERILMU

Allah berfirman :” Apakah sama orang-orang yang berilmu dengnan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanyalah orang yang berakal yang bisa mengambil pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Tentu saja tidak akan pernah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu sebagaimana tidak sama pula orang yang hidup dengan orang yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, dan orang yang melihat dengan orang yang buta. 

Ilmu adalah cahaya yang bisa dijadikan petunjuk oleh manusia sehingga mereka bisa keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang.  Ilmu menjadi penyebab diangkatnya derajat orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan hamba-Nya.:”Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah : 11).
Oleh karena itu kita dapatkan bahwa ahli ilmu merupakan tumpuan pujian, setiap kali  nama mereka disebut, manusia selalu memujinya. Ini adalah diangkatnya derajat mereka di dunia. Adapun di akhirat mereka diangkat derajatnya sesuai dengan da’wah dan amal dari ilmu yang mereka miliki.


Seorang hamba sejati adalah orang yang beribadah kepada Allah atas dasar ilmu dan telah jelasnya kebenaran baginya. Inilah jalan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam.”Katakanlah ! :Inilah jalanku yang lurus, aku mengajak manusia kepada Allah atas dasar ilmu yang aku lakukan beserta pengikutku. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang musyrik.” (Yusuf : 108). Seorang manusia yang  bersuci dan dia tahu  bahwa dia berada dia atas cara bersuci yang sesuai dengan syariat, apakah orang ini  sama dengan orang yang bersuci hanya karena dia melihat cara bersuci bapaknya atau ibunya ? Manakah yang lebih sempurna  dalam melakukan ibadah diantara keduanya ? Seseorang yang bersuci karena dia mengetahui bahwa Allah memerintah untuk bersuci dan apa yang dia lakukan merupakan cara bersuci Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam lalu dia bersuci karena melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam , ataukah seseorang yang bersuci atas dasar kebiasaan ?
Jawabnya adalah : Tidak diragukan lagi bahwa orang yang pertamalah yang beribadah kepada Allah atas dasar ilmu.

Samakah kedua orang tadi ? Sekalipun keduanya melakukan hal yang sama akan tetapi  yang pertama melakukannya berdasarkan ilmu dengan berharap kepada Allah Azza Wajalla dan takut kepada akhirat serta menyadari bahwa dia sedang mengikuti Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Saya akan berhenti dulu pada point ini dan bertanya : Apakah kita menyadari ketika berwudhu bahwa kita sedang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya :” Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat  maka basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai sikut  dan usaplah kepala-kepala klian dan basuhlah kaki-kaki kalian sampai dua mata kaki.” ((QS. Al Maidah : 6).
Apakah ketika berwudhu seseorang menyadari ayat ini dan dia berwudhu karena melaksanakan perintah Allah ?
Apakah diapun menyadari bahwa ini adalah cara wudhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan dia berwudhu karena mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam ?
Jawabnya : Ya ! Kenyataannya ada diantara kita yang menyadari hal itu, oleh karena itu  ketika mengerjakan ibadah kita wajib meniyatkan untuk melaksanakan perintah Allah sehingga dengan hal itu tercapailah ikhlas. Kitapun mesti meniyatkan mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam melakukan ibadah itu. Kita mengetahui bahwa diantara syarat wudhu adalah niyah, akan tetapi niyat ini kadang-kadang dimaksudkan miniyatkan beramal, dan inilah yang dibahas dalam bidang fiqih. Kadang-kadang juga dimaksudkan meniyatkan apa yang diamalkan dan ketika itu kita harus memperhatikan perkara yang agung  ini yaitu kita menyadari bahwa kita beribadah dalam rangka melaksanakan perintah Allah  agar tercapai keikhlasan dan menyadari bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam melakukan hal ini dan kitapun mengikutinya dalam hal ini agar tercapailah sikap mutaba’ah (mengikuti) karena diantara syarat sahnya amalan adalah ikhlas dan mutaba’ah sehingga dengan kedua hal ini ter aplikasikanlah syahadat bahwa tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah.

Dengan ilmu seseorang beribadah kepada Allah berdasarkan bashirah, maka hatinya akan selalu terpaut dengan ibadah dan hatinyapun akan terterangi dengan ibadah itu sehingga dia melakukannya berdasarkan hal itu dan menganggap bahwa hal itu sebagai ibadah dan bukan hanya sebagai adat (kebiasaan). Oleh karena itu apabila seseorang shalat berdasarkan sikap ini maka dia termasuk orang yang dijamin oleh apa yang diterangkan Allah bahwa shalat itu akan mencegah dia dari perbuatan keji dan munkar.

Dan diantara keutamaan ilmu yang terpenting adalah sebagai berikut :
Pertama : Ilmu adalah warisan para nabi.
Para nabi  tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar, yang mereka wariskan hanya ilmu, maka barang siapa yang telah mengambil ilmu  maka berarti dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi. Engkau sekarang  berada pada abad ke lima belas hijriyah, apabila engkau  seorang ahli ilmu berarti engkau menerima waris dari Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, dan ini  termasuk keutamaan yang paling besar.
Kedua : Ilmu itu abadi sedangkan harta adalah fana (akan rusak).
Contohnya adalah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia termasuk sahabat yang faqir sehingga  dia sering terjatuh mirip pingsan karena menahan lapar. Dan –Demi Allah- saya bertanya kepada kalian  apakah nama Abu Hurairah selalu disebut di kalangan manusia pada zaman kita sekarang atau tidak ? Ya, namanya banyak disebut sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan hadis-hadisnya, karena ilmu  akan abadi sedangkan harta akan rusak . Maka Engkau hai para penuntut ilmu wajib memegang teguh ilmu. Di dalam suatu hadis Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menyatakan :” Apabila anak Adam mati maka putuslah segala  amalnya kecuali tiga. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan otang tuanya.”[1]
Ketiga : Pemilik ilmu tidak merasa lelah dalam penjaga ilmu.
Apabila Allah memberi rizki kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati yang tidak membutuhkan peti, kunci, atau yang lainnya. Dia akan terpelihara di dalah hati dan terjaga di dalam jiwa dan dalam waktu yang bersamaan diapun menjagamu karena dia akan memeliharamu dari bahaya atas izin Allah. Maka ilmu itu akan menjagamu sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya yang harus engkau simpan di peti-peti yang terkunci, sekalipun demikian hatimu tetap tidak tenang.
Keempat : Dengan ilmu manusia bisa menjadi para saksi atas kebenaran.
Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :”
Allah bersaksi bahwa tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Dia, demikian juga para malaikat dan orang-orang ynag berilmu yang tegak di atas keadilan.” (QS. Ali Imran : 18).  Apakah dalam ayat ini Allah juga mengatakan :” Dan juga pemilik harta ?” Tidak ! Tapi Dia mengatakan :” Dan orang-orang yang berilmu yang tegak di atas keadilan” Maka cukuplah menjadi kebanggan bagimu wahai penuntut ilmu, engkau menjadi orang yang bersaksi bagi Allah bahwa tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Dia beserta para malaikat  yang menyaksikan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelima : Ahli ilmu  termasuk salah seorang dari dua golongan ulil amri. yang wajib ditaati berdasarkan perintah Allah.
Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian.”(QS. An Nisa : 59).  Ulil amri disini  mencakup ulil amri dari kalangan para penguasa dan para hakim, ulama dan para penuntut ilmu. Maka wewenang ahli ilmu adalan menjelaskan syariat Allah dan mengajak manusia untuk melaksanakannya sedangkan wewenang penguasa adalah menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.
Keenam : Ahli ilmu adalah orang yang melaksanakan perintah Allah Ta’ala sampai hari kiamat.
Yang menjadi dalil tentang hal itu adalah hadis Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia berkata : Saya mendengar Rosul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “ Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuat orang itu faham tentang agamanya. Saya hanyalah Qosim dan Allah Maha Pemberi.  Dan di kalangan ummat ini akan selalu ada sekelompok orang yang selalu tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan dimadharatkan oleh orang-orang yang munyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah.” (HR. Bukhari).[2]
Imam Ahmad telah berkata tentang kelompok ini :” Bila mereka bukan ahli hadis maka saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.”
Al Qadhi Iyyadh Rahimahullah berkata :” Maksud Imam Ahmad adalah ahli sunnah dan orang yang meyakini madzhab ahli hadis.”
Ketujuh :
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam tidak pernah memotivasi seseorang agar iri kepada orang lain tentang suatu nikmat yang Allah beriikan  kecuali dua macam nikmat :
1). Mencari ilmu dan mengamalkannya.
2). Pedagang yang menjadikan hartanya sebagai alat untuk memperjuangkan Islam.
Sebuah hadis dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :” Tidak boleh iri  kecuali dalam dua hal : seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran. Dan seseorang yang dibeli ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya.”[3]
Kedelapan :
Diterangkan dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh  Bukhari dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu ‘Anhu dari nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam , beliau bersabda :” Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah telah mengutus aku dengan membawa keduanya adalah seperti hujan yang menimpa bumi,maka diantara bumi  itu ada tanah yang baik (gembur) yang menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rumput yang banyak. Ada pula tanah yang keras yang bisa menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dari tanah itu,mereka minum  dan bercocok tanam. Hujan pun menimpa tanah yang lain yaitu Qii’aan yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bisa  memberi manfaat dari apa yang Allah telah mengutusku dengan membawa ajaran ini , lalu dia mengetahui dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya untuk hal itu dan orang yang tidak mau menerima petunjuk dari Allah yang aku diutus dengan membawa petunjuk itu.[4]
Kesembilan :  Ilmu adalah jalan menuju surga sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :” Dan barang siapa yang menelusuri jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga..”[5]
Kesepuluh :
Diterangkan dalam sebuah hadis Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata : Telah berkata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam :” Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuat orang itu faham tentang agamanya.” Artinya Allah akan menjadikan orang itu faqih tentang agama Allah Azza Wajalla. Dan faqih tentang agama Allah bukanlah maksudnya memahami hukum-hukum amaliyah tertentu menurut ahli ilmu berdasarkan ilmu fiqih saja akan tetapi maksudnya adalah : ilmu tauhid dan ushuluddin dan apa-apa yang berkaitan dengan syariat Allah Azza Wajalla. Seandainya tidak ada keterangan dari kitab dan sunnah kecuali hadis ini saja tentang keutamaan ilmu, maka inipun sudah sempurna dalan memberikan dorongan untuk mencari ilmu syariat dan pemahaman terhadapnya.
Kesebelas : Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang hamba, maka diapun akan mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabbnya dan bagaimana cara bergaul dengan sesama hamba-Nya, maka jalan hidupnya akan selalu berada di atas ilmu dan bashirah.
Kedua belas : Orang yang berilmu adalah cahaya yang menerangi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Tidaklah samar dalam ingatan kebanyakan manusia tentang orang ynag telah membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil lalu dia bertanya tentang orang yang oaling berilmu dimuka bumi lalu dia ditunjukkan kepada seorang abid (ahli ibadah)  lalu dia bertanya apakah dia bisa tobat ? Sio abid menganggap dosanya terlalu besar sehingga dia menjawab : Tidak ! Lalu dibunuhnya si abid tadi sehingga genap 100 orang, lalu dia pergi ke seorang alim (orang yang berilmu) lalu dia bertanya kepadanya maka si alim menjawab bahwa dia bisa tobat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan tobatnya, lalu dia menunjuki oramng itu ke satu negeri  yang penduduknya salih agar dia datang ke negeri itu, lalu diapun pergi, tapi di tengah jalan maut menjemput. Kisah ini amat masyhur.[6]
Perhatianlah perbedaan antara seorang alim dan seorang jahil.
Ketiga  belas : Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat ahliilmu di akhirat dan di dunia. Adapun di akhirat maka Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan  da’wah dan amal yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia Allah akan mengangkat mereka di kalangan hamba-Nya sesuai pula dengan amal mereka. Allah berfirman :” Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara dan yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah : 11).

Wallahu a'lamu bish shawab

Diringkas dari Kitab Al-Ilmu oleh Syaikh Al-Utsaimin
_____________________
[1]Dikeluarkan oleh Muslim, kitab washiyat, bab pahala apa yang akan mengikuti manusia setelah wafatnya.
[2]Bukhari , kitab ilmu, bab orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah. Muslim, kitab zakat, bab larangan meminta.
[3]Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab ilmu,bab iri tentang ilmu dan hikmah. Muslim, kitab shalat,bab keutamaan orang yang mengamalkan Quran dan mengajarkannya.
[4]Dikeluarkan oeh Bukhari, kitab ilmu, bab keutamaan orang yang berilmu dan beramal. Muslim, kitan keutamaan, bab perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam telah diutus dengan membawa keduanya.
[5]Dikeluarkan oleh Muslim, kitab dua. Bab keutamaan berkumpul untuk membaca Al Quran.
[6]Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab para nabi, bab cerita tentang Bani Israil. Muslim, kitab tobat, bab diterimanya tobat seorang pembunuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar